Informasi Berita, Menarik dan Terhangat

Kisah Inspiratif Sri Rahayu yang Sempat Dilarang Almarhum Ibunda Terjun ke Dunia Politik

Hj. Sri Rahayu Agustina saat bersama keluarganya. (dok foto)
banner 468x60

“2009 saya pernah mengalami kalah. Karena saya tidak terlalu serius menggeluti itu (nyaleg)”

BaskomNews.com – Apapun mimpi dan cita-citanya, restu dari orang tua dan keluarga sangatlah penting di dalam setiap mengejar karir. Karena tak jarang seorang pekerja keras yang gagal mengejar mimpi dan cita-cita, lantaran belum memiliki restu dari orangtua dan keluarga.

Pelajaran dan kisah inspiratif ini mungkin bisa diambil dari sosok Hj. Sri Rahayu Agustina, salah seorang anggota wakil rakyat dari Fraksi Golkar yang juga masih menjabat sebagai Wakil Ketua I DPRD Karawang, yang pada Pileg 2019 ini ‘nyaleg’ sebagai Calon Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Partai Golkar (wilayah Karawang-Purwakarta).

banner 336x280

Lika-liku perjalanan karir politik perempuan kelahiran Karawang, 2 Agustus 1975 ini cukup menarik. Oleh karenanya, tim BaskomNews.com mencoba mengorek informasi lebih mendalam tentang siapa perjalanan Hj. Sri Rahayu Agustina.

Kepada BaskomNews.com, Sri Rahayu mengaku sempat gagal atau kalah dalam perhelatan Pileg 2009. Alasannya, Sri Rahayu hanya menyimpulkan jika saat itu almarhum orangtuanya belum mengijinkan dirinya terjun ke dunia politik. Terlebih, anak-anaknya saat itu masih terbilang cukup kecil jika harus sering ditinggalkan sang ibu di rumah.

“2009 saya pernah mengalami kalah. Karena saya tidak terlalu serius menggeluti itu (nyaleg). Terlebih posisi anak saya masih kecil dan ibu saya tidak terlalu suka. Ketika saya kalah pun, waktu itu tidak terlalu jadi penyesalan. Waktu itu saya cuma berpikir, mungkin saya belum mendapatkan restu dari seorang ibu,” tutur Hj. Sri Rahayu Agustina, Senin (18/2/2019).

Namun pada Pileg 2014 lalu (Sri Rahayu kembali melanjutkan ceritanya), jika saat itu ia dipanggil Ketua DPD Golkar Karawang, Dadang S Muchtar untuk kembali ‘nyaleg’. Saat itu, ibunda dari Sri Rahayu sendiri sudah wafat. Beruntung Sri Rahayu sudah meminta ijin dari almarhum ibunya sebelum wafat. Karena meskipun sudah menjadi ibu tangga, curhat kepada almarhum sang ibu masih menjadi kebiasaan Sri Rahayu saat itu.

“2014 ketika nyalon lagi, ibu saya sudah meninggal. Tapi sebelumnya saya sudah meminta izin kepada ibu saya, ibu saya tersenyum. Ia hanya bilang ‘iya’ sambil tersenyum. 2014 saya dipanggil Pak Dasim (Dadang S Muchtar). Saya sudah tahu beliau manggil saya untuk nyalon. Singkat cerita semua keluarga besar saya waktu itu mengizinkan untuk nyalon, terutama izin dan restu dari suami. Karena yang paling penting dan prinsip adalah restu dari suami,” timpal Sri Rahayu.

Menurut Sri, atas restu dari almarhum ibu dan suaminya inilah, akhirnya kesuksesan perjalanan karir politik mulai dialaminya, sehingga mengantarkan dirinya menjadi Wakil Ketua I DPRD Karawang. Begitupun ketika ada kesempatan untuk nyaleg provinsi di Pileg 2019 ini, Sri Rahayu mengaku tidak pernah lupa untuk meminta izin dari suami dan keluarganya.

Kenapa Harus Nyaleg di Provinsi?

Selain alasan ada kesempatan dari partai (Golkar, red), Sri Rahayu mengaku ada beberapa persoalan pembangunan infrastruktur Karawang yang selama ini belum diselesaikan. Salah satunya seperti persoalan jalan Tanjungpura-Rengasdengklok yang dari dulu sampai sekarang tidak pernah tersentuh pembangunan. Padahal status jalan tersebut merupakan ranahnya pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Di sisi lain, Rengasdengklok sendiri merupakan daerah bersejarah dimana ‘tidak akan ada Indonesia ketika tidak ada Rengasdengklok’. Karena memang di Rengasdengklok awal mula Indonesia terlahir sebagai negara merdeka.

Momentum Sri Rahayu Agustina bersama masyarakat saat sosialisasi dan kampanye pancalegannya sebagai Caleg Provinsi Jawa Barat.

“Selain aktivitas kendaraan yang padat, di sana juga banyak situs sejarah, misal candi jiwa. Banyak orang dari luar Karawang datang ke sana, tapi fasilitas jalannya tidak memadai. Banyak juga destinasi wisata di sana, Pantai Sedari, Pakisjaya dan lainnya. Ini yang harus bisa kita perjuangkan. Kalau anggota dewan provinsinya dari Karawang minim, ya repot untuk memperjuangkannya,” tutur Sri Rahayu.

“Kesempatan tidak akan datang kedua kalinya. Saya nyaleg provinsi, tidak lain adalah hari ini kondisi Karawang yang cukup signifikan, sudah menjadi kabupaten metropolitan yang membutuhkan banyak sentuhan pembangunan. Berangkat dari sana saya ingin maju di provinsi, karena ada persoalan pembangunan infrastruktur Karawang yang perlu diperjuangkan melalui APBD provinsi,” kata Sri Rahayu.

“Ketika saya terpilih (mejadi anggota DPRD Provinsi Jawa Barat), saya akan membawa aspirasi untuk meringankan beban Pemerintah Karawang. Semakin banyak anggota DPRD provinsi yang asalnya dari Karawang, maka akan semakin banyak aspirasi yang bisa kita serap untuk Karawang. Kemarin dari 7 anggota dewan provinsi hanya satu dari Karawang. Ini miris bagi saya, kenapa tidak saya maju di provinsi Jawa Barat,” timpal Sri Rahayu.

Sebenarnya, sambung Sri, sebagai kader partai memang harus siap ditempatkan dimanapun. Sehingga ketika dirinya ditugaskan untuk nyaleg provinsi, Sri mengaku sudah siap dengan segala macam resikonya.

“Dan Alhamdulillah, dengan jaringan yang ada kita sudah mulai merambah di 30 kecamatan di Karawang, di Purwakarta juga demikian. Insya Allah, kita juga banyak simatisan yang ingin ada orang Karawang yang memperjuangkan Karawang di provinsi,”  kata Sri rahayu.

Apakah Membantu Masyarakat Harus Jadi Wakil Rakyat?

Mahasiswi lulusan Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) ini mengaku, jika sebenarnya ia tidak pernah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang politisi. Adapun perjalanan karir politiknya yang menghantarkannya menjadin wakil rakyat Karawang, Sri Rahayu lebih sepakat jika kondisi ini adalah panggilan hati dan takdir alam yang terjadi begitu saja.

Karena sebelum menjadi anggota dewan pun, Sri Rahayu mengaku jika rumahnya sudah terbiasa kedatangan masyarakat yang meminta bantuan. “Menjadi wakil rakyat atau tidak, menurut saya dikembalikan lagi kepada niat dan tujuannya. Ketika tujuan ini tercapai untuk masyarakat, kita akan enjoy. Karena justru biasanya, kalau ada masyarakat mendatangi rumah anggota dewan, mereka akan tutup lawang dengan alasan sedang gak ada di rumah,” tutur Sri Rahayu.

Salah satu momentum kegiatan Reses Sri Rahayu Agustina sebagai wakil rakyat Karawang.

“Kalau kita niatnya ikhlas, setiap hari pasti akan selalu banyak masyarakat yang datang ke rumah kita untuk minta bantuan. Justru saya selalu merasa tidak bisa nyaman, ketika ada masyarakat yang datang ke rumah, tapi belum bisa saya selesaikan persoalannya,” timpal Sri Rahayu kembali.

“Prinsip saya ketika kita dipilih rakyat, kita harus kembali lagi kepada rakyat. Keduanya, ini adalah pannggilan hati, saya termasuk orang yang tidak bisa melihat masyarakat kecil susah. Walaupun kita tidak bisa membantu secara full, tapi pasti kita bantu. Kita niatnya bersedekah karena Lillahi’tala, kita ikhlas,” timpal Sri Rahayu.

Tetap Menjadi Seorang Ibu di Rumah

Aktivitas sebagai wakil rakyat diakui Sri Rahayu sangat menyita banyak waktu untuk keluarga di rumah. Terlebih akhir-akhir ini dalam masa pencalonannya sebagai caleg provinsi, Sri Rahayu mengaku ‘sering malu’ kepada suaminya, karena sering telat atau pulang malam ke rumah. Namun bagi Sri, inilah takdir hidupnya. Asal suami bisa mengerti dan memberikan restu serta izin, maka selama itu ia mengaku akan melakoni karirnya sebagai politisi dan wakil rakyat.

Sehingga sampai saat ini, Sri Rahayu mengaku selalu berusaha menjadi seorang ibu yang baik di rumah. Menyiapkan sarapan pagi dan pakaian sebelum suami berangkat kerja, memasak di rumah, jalan-jalan dengan keluarga di hari libur, sampai dengan memperhatikan prestasi sekolah anak-anaknya, Sri mengaku masih melakoni semuanya sebagai ibu rumah tangga.

Meskipun sudah menjabat sebagai wakil rakyat Karawang, aktivitas Sri Rahayu Agustina sebagai istri untuk melayani suami di rumah masih dilakukannya sampai saat ini.

“Menjadi wakil rakyat atau tidak, saya hanya ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, berguna bagi siapapun yang membutuhkan. Karena bagi saya ada kepuasan batin tersendiri ketika bisa membantu orang lain. Jangan pernah meminta imbalan apapun, nanti Allah SWT yang akan membalasnya,” kata Sri Rahayu.

“Support suami sangat luar biasa. Yang penting kewajiban sebagai ibu tidak tertinggal. Setiap pagi saya tetap menyiapkan sarapan, pakaian dan melayani suami sebelum berangkat kerja. Yang penting saya masih masak di rumah sebagai ibu untuk suami dan anak-anak,” tandas Sri Rahayu, istri dari seorang Kepala Disnaker Karawang, H. Ahmad Suroto ini.***

banner 336x280