BaskomNews.com – Caleg DPR RI Dapil Jabar 7 dari PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka menyambangi salah satu lokasi terancam gusuran akibat proyek pemerintah di daerah Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Minggu (24/3/2019).
Perempuan yang lebih akrab disapa ‘Oneng’ ini berfoto bersama dengan warga. Oneng juga sempat memeluk salah seorang ibu yang terlihat terharu karena kedatangannya.
Usai sedikit berkelakar dan mengakrabkan diri dengan warga kampong, Oneng menjelaskan tata cara melakukan pencoblosan kepada warga. “Jangan lupa coblos nomornya, jangan gambar bantengnya,” terang Oneng kepada warga.
Selain itu, Oneng juga mengingatkan agar warga tidak berpindah pilihan saat pencoblosan nanti dan sedikit menyindir soal politik uang tentang jual beli suara.
“Inget ibu-ibu pilihan jangan sampe berubah, jangan sampe gara-gara uang nanti berubah. Saya inget cerita teman saya yang suaranya mau dibeli. Sekarang coba ibu-ibu pikir kalau pencalonan saja sudah mengeluarkan uang banyak untuk beli suara, nanti kalau jadi ya pikirannya gimana supaya uangnya bisa kembali,” timpal Oneng.
Melalui kesempatan ini, Oneng juga menjelaskan soal visi misi, serta beberapa program pencalegannya. Yaitu seperti pemerataan Kartu Indonesia Sehat dan pengembangan industrial.
“Konsep dari PDI Perjuangan mudah-mudahan selaras dengan apa yang Pak Jokowi sedang canangkan. Beliau sering mengatakan Industrial for Point Zero. Dan kiyai Ma’aruf Amin mengatakan, kita akan memperjuangkan Badan Riset Nasional. Karena tak ada satu negara bisa maju tanpa riset. Tidak ada satu negara bisa maju tanpa orientasinya menjadi negara industri,” terang Oneng.
Bekasi dan Industri
Menurut Oneng, Indonesia harus menjadi negara industri. Tetapi dengan tetap tidak meninggalkan karekteristik sebagai negara agraris. Dan semuanya harus berbasis pada riset.
“Ketika memang konsep bernegara Indonesia ini implementasi dari Pancasila, bukan hanya teori sila-sila yang harus dihapalkan. Tapi membumikan Pancasila melalui suatu roadmap pembangunan menjadi negara industri berbasis pada riset tekhnologi dan inovasi nasional. Maka secara keseluruhan hulu, tengah, hilir ini harus singkron, termasuk pendidikan, termasuk penyiapan tenaga kerjanya,” paparnya.
Masih dijelaskan Oneng, menjadi ironi tersendiri ketika berbicara Bekasi yang identik dengan dunia industry, tetapi menjadi salah satu daerah penyumbang pengangguran terbanyak di Indonesia. Dalam hal ini, Oneng memaparkan sebuah contoh sekolah industrial yang sistem kurikulumnya dapat dicontoh oleh sekolah dengan basis industri.
“Misalnya, satu contoh yang baik adalah SMK di MM2100, bagaimana sekolah-sekolah vokasi dan kejuruan itu di benahi kurikulumnya, untuk orientasinya bahwa rakyat harus menjadi tenaga kerja dan tenaga terampil. Jadi, lapangan kerja Indonesia menjadi negara industri itu pertama kali adalah untuk rakyat kita. Bukan kita anti asing, tetapi semua negara pasti memperjuangkan rakyatnya untuk bisa bekerja,” jelasnya.
Namun, selain sekolah dengan basis industri tersebut, kembali dijelaskan Oneng, juga dibutuhkan sebuah sarana untuk mematangkan para calon pekerja agar lebih siap menghapi persaingan.
“Model SMK MM2100 ini, lalu kemudian dilanjutkan dengan ada model balai latihan kerja seperti di Kota Solo yang dibuat oleh Pak Jokowi sejak menjadi Walikota, namanya Solotechnopa. Jadi anak muda dididik, dilatih tidak hanya dapat sertifikat. Tapi kemudian disalurkan ke perusahaan dalam dan luar negeri untuk bekerja,” papar Oneng.
“Termasuk model di MM2100, kurikulumnya juga saya sudah datang ke sana. Alhamdulillah, mudah-mudahan ini bisa menjadi percontohan untuk semua model SMK. Kalau Indonesia memang mau menjadi negara industri. Memang persoalannya sekarang mau bagaimana?. Pertama, ya tentu saja pemilu ini mari kita lewati. Setelah itu, untuk kawasan-kawasan industri memang harus ada roadmap yang jelas,” tandas Oneng.(cr1)












