BaskomNews.com – Produksi garam sejumlah petani di pesisir utara Karawang tercemar tumpahan minyak mentah Pertamina. Untuk menentukan masih layak konsumsi atau tidaknya garam yang sudah tercemar minyak Pertamina ini, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Karawang mengambil sampel untuk dilakukan uji laboratorium.
Bukan hanya garam, DKP juga mengambil sampel ikan untuk dilakukan uji kelayakan di laboratorium milik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
“Uji terhadap sampel garam dan ikan diperlukan untuk memastikan apakah masih bisa dikonsumsi atau tidak. Hasil uji lab juga bisa dijadikan dasar penggantian kerugian yang diderita petani tambak,” kata Kepala Seksi Kelembagaan Nelayan DKP Karawang, Setya Saptana, Minggu (4/8/2019).
Dijelaskan Setya, laporan tentang hasil uji laboratorium sampel ikan dan garam ini akan diserahkan ke tim kompensasi yang dibentuk Bupati Karawang. Selanjutnya, tim yang akan mengajukan ke pihak Pertamina, agar kerugian yang diderita warga itu segera diganti Pertamina.
“Sejauh ini, pihak pertamina sangat kooperatif terhadap tuntutan warga dan Pemkab Karawang,” kata Setya.
Sebelumnya, Wasdal Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Karawang, Ade Imam menginformasikan, untuk kelompok tani garam di Cilamaya Kulon sendiri memiliki luas sekitar 33,5 hektar dengan produksi 307 ton/15 hari. Kini kondisi tambak garam tersebut sudah tercemar limbah minyak Pertamina.
Sementara untuk tambak garam di Kecamatan Tirtajaya, totalnya ada 15 hektar dengan produksi garam 290 ton/15 hari. Dan kondisinya kini, sekitar 8 hektar tambak garam tersebut sudah tercemar minyak Pertamina.
“Dan untuk kelompok tani garam di Tempuran, total ada 65 hektar dengan produksi 419 ton/15 hari. Kondisinya juga sama, sebagian tercemar limbah minyak Pertamina. Kerugian-kerugian para petani garam ini masih dihitung,” kata Ade Imam.
Untuk diketahui, semenjak tumpahan minyak Pertamina mencemari tambak garam, puluhan pekerja petani garam terpaksa tidak melakukan aktivitas apapun. Para petani pun memilih tidak melakukan panen sampai waktu yang tidak ditentukan, karena khwatir hasil produksi garam mereka berbahaya ketika dikonsumsi masyarakat.
Sampai saat ini, para buruh dan petani garam ini masih menunggu hasil uji lab dari pemerintah (DKP Karawang). Mereka semua menghentikan aktivitas produksi garam, meskipun bertani garam merupakan mata pencaharian utama mereka untuk menghidup perekonomian keluarganya.
Sementara itu, dari siaran pers yang diterima “PR”, Vice President Relations PT Pertamina Hulu Energi, Ifki Sukarya, menyatakan, Pertamina Hulu Energi Offshore Northwest Java (PHE ONWJ) berhasil mempercepat rencana pengeboran Relief Well YYA-1RW sebagai upaya menghentikan gelembung gas. Itu dilakukan setelah selama satu minggu melakukan survey untuk menentukan titik sumur dan penempatan rig.
Pengeboran sumur telah dimulai Kamis, 1 Agustus 2019, pukul 14.00 WIB, atau dua hari lebih cepat dari jadwal semula. Hingga Sabtu, 3 Agustus 2019, pengeboran sudah mencapai kedalaman 136 meter dan terus dilanjutkan sampai target kedalaman 2.765 meter.
“Kegiatan mobilisasi rig ini dilakukan bersamaan dengan dilakukannya survey geohazard dan geotechnical, sehingga tidak ada waktu tunggu. Proses preload bisa langsung dilakukan begitu Marine Survey Waranty diperoleh. Sementara itu, beberapa pekerjaan persiapan bisa dilakukan secara simultan sehingga dapat mempercepat waktu tajak dua hari dari rencana awal,” ujar Ifki.
Dikatakannya, PHE ONWJ telah menggandeng perusahaan berpengalaman di bidang well control yang telah terbukti sukses menangani hal yang sama, antara lain peristiwa di Teluk Meksiko. Selain itu, PHE ONWJ juga menggandeng perusahaan lain yang berpengalaman untuk membantu memberikan pandangan dan kajian bersama terkait optimalisasi penanganan situasi seperti ini.
“Selama proses pengeboran relief well YYA-1RW berlangsung, PHE ONWJ terus memastikan keselamatan tim, masyarakat, serta menyelesaikan permasalahan lingkungan di sekitar lokasi,” katanya.
PHE ONWJ juga terus berupaya optimal menahan tumpahan minyak agar tidak melebar ke perairan yang lebih luas dengan melakukan strategi proteksi berlapis di sekitar anjungan. Mereka pun mengejar, melokalisasi, serta menyedot ceceran minyak yang melewati batas sabuk oil boom di sekitar anjungan.(Red BaskomNews/PR)








