Informasi Berita, Menarik dan Terhangat

Kontroversi Goyang Karawang 2 M vs Hari Santri Nasional 30 Juta

Kontroversi Festival Goyang Karawang vs Hari Santri Nasional.
banner 468x60

BaskomNews.com – Pemkab Karawang telah sukses menggelar Festival Goyang Karawang Internasional 2019. Untuk menyedot perhatian masyarakat dan mendapatkan Rekor MURI Dunia, tak tanggung-tanggung sekitar Rp 2 miliar lebih dianggarkan pemkab untuk kegiatan ini.

Sekitar 17.857 orang penari dari kalangan pejabat, masyarakat dewasa sampai siswa Sekolah Dasar (SD) dilibatkan dalam Festival Goyang Karawang Internasional 2019 yang digelar di Lapangan Galuh Mas Karawang pada Jumat malam (27/9/2019) ini.

banner 336x280

Alhasil, Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatatkan Festival Goyang Karawang Internasional 2019 masuk sebagai rekor denggan jumlah penari paling banyak di dunia.

Melalui kesempatan ini, Bupati Karawang, dr. Hj. Cellica Nurrachaadiana mengaku akan berkomitmen terus memperbaiki pembangunan di Karawang. Bukan saja dalam persoalan infrastruktur pendidikan, kesehatan dan infrastruktur fisik seperti jalan dan irigasi, serta agama yang diutamakan. Melainkan juga pembangunan dalam konteks indeks kebahagian masyarakat melalui seni budaya bisa dijaga.

Menurut Bupati, di usia Karawang yang ke-386 tahun, Karawang akan terus berbenah di segala bidang, termasuk di bidang seni budaya dan dalam membahagiakan masyarakatnya.

“Ke depan Karawang bukan saja dikenal dengan pusat pertanian dan industrialisasi. Melainkan juga pusat sejarah dan kaya akan seni dan budayanya,” kata bupati.

Kontroversi Festival Goyang Karawang 2019

Namun disisi lain, Festival Goyang Karawang Internasional 2019 yang sebelumnya digadang-gadang akan melibatkan 15 negara ini tidak sepenuhnya membuat beberapa kalangan elemen masyarakat merasa bangga dan puas. Pasalnya, event besar dan mewah dengan anggaran 2 miliar ini membuat sebagian kalangan seniman dan budayawan kecewa, karena tidak pernah dilibatkan sejak awal.

Dengan alasan hanya akan mempertontonkan sisi erotisme yang berbenturan dengan nilai-nilai agama islam, Festival Goyang Karawang Internasional 2019 juga sempat mendapatkan protes dari beberapa kelompok Ormas Islam di Karawang.

Bahkan sebagian Ormas Islam mengaku akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran sebagai bentuk protes terhadap Festival Goyang Karawang. Namun sampat hari pelaksanaan event digelar, aksi demonstrasi tersebut urung digelar. Belum diketahui pasti apa alasannya.

Kemudian, event Festival Goyang Karawang Internasional 2019 ini bukan hanya tidak dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Melainkan juga tidak dihadiri oleh Wakil Bupati Karawang, H. Ahmad Zamakhsyari (Kang Jimmy).

Bahkan melalui akun media sosial facebook miliki pribadinya, Wabup Jimmy menulis secara terang-terangan mengenai alasan ketidakhadiran dirinya dalam Festival Goyang Karawang Internasional 2019.

Mohon Maaf Saya Tidak akan Hadir di Acara GOYANG KARAWANG Dengan Pertimbangan :

  1. Budaya Karawang Adalah KETUK TILU Jaipongan BUKAN GOYANG Karawang
  2. Anggaran Negara Yang Terlalu BESAR Hanya Untuk Bergoyang Ria Sebesar Hampir 2 Milyar Rupiah
  3. Memberatkan BEBAN ANGGARAN Kepada Semua Camat, Kepala Desa, Untuk Beli Baju Seragam GOYANG, Kendaraan Peserta GOYANG & Makan Sendiri
  4. Tidak Ada Sisi Keuntungan Ekonomi Hadir Nya TURIS Asing Nginep di HOTEL HOTEL Karawang, Kalaupun Ada Orang Asing Itu Hanya Undangan Panitia aja Untuk di Tampilkan di Acara GOYANG Tersebut
  5. Karunya ka Barudak SD Kapanasan 6.Bandingkan Anggaran GOYANG Yang Hampir 2 Milyar dengan Anggaran Hari SANTRI Yang Hanya 30 JUTA SAJA

Tulis Wabup Jimmy dalam status akun facebook Ahmad Jimmy Zamakshsyari.

Pada kaca mata persoalan lain, anggaran Festival Goyang Karawang yang dinilai terlalu besar dan tidak ada manfaatnya untuk masyarakat Karawang ini dikait-kaitkan dengan persiapan Hari Santri Nasional (HSN) 22 Oktober 2019 yang hanya dianggarkan pemkab sebesar Rp 30 juta rupiah, jauh lebih kecil dari anggaran Festival Goyang Karawang Rp 2 miliar lebih.

Bahkan beberapa tokoh ulama Nahdatul Ulama (NU) Karawang sangat menyayangkan sikap pemkab yang dinilai ‘pilih kasih’ dalam menganggarkan event-event besar di Karawang.

Terlebih, Festival Goyang Karawang Internasional 2019 yang dinilai hanya menghambur-hamburkan uang negara untuk kemeriahan sesaat ini, serta hanya menampilkan sisi erotisme dalam eventnya ini sangat disayangkan waktu pelaksanaanya yang tidak jauh berbarengan setelah beberapa hari pemkab menggelar shalat istisqo, shalat meminta hujan karena Karawang sedang mengalami bencana kekeringan.

Persoalan ini pun sempat disindir oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Karawang, KH. Ahmad Ruhyat Hasby melalui akun medsos facebook milik pribadinya.

asa araneh, kamari istisqo ayena goyang, pantesan hujan di karawang teu turun2, duh gusti

(Terasa aneh, kemarin baru saja shalat istisqo sekarang goyang, pantas saja hujan di Karawang tidak turun-turun, duh gusti)

Tulis Kiyai yang lebih akrab disapa Kang Uyan tersebut.

(red/BaskomNews)

banner 336x280