BaskomNews.com – Kurang lebih selama 15 tahun persoalan pencemaran Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya Kabupaten Karawang oleh limbah industri di Kabupaten Subang dan Purwakarta tak kunjung menemui solusi kongkret.
Persoalan pencemaran sungai oleh limbah industri ini sudah menjadi rahasia umum. Bahkan para pejabat Dinas Lingkungan Hidup, termasuk Bupati di tiga kabupaaten (Karawang, Purwakarta, Subang) sudah mengetahui titik persoalan pencemaran Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya yang kondisi air sungainya hitam pekat dan mengeluarkan bauk tak sedap ini.
Bukan hanya bupati dan pejabat daerah, bahkan para pejabat Dinas Lingkungan Hidup sampai Gubernur Jawa Barat sudah mengetahui duduk persoalannya. Yaitu ‘pembuangan limbah industri di Kabupaten Subang dan Purwakarta’.
Persoalan pencemaran Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya ini kembali ramai disorot para aktivis lingkungan di Karawang sekitar Juli 2019. Berbagai aktivis dan elemen masyarakat yang merasa peduli dengan kondisi Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya kembali melakukan gerakan moral, agar ada solusi kongkret atas persoalannya.
Bahkan saat itu, Satgas Citarum Harum beberapa kali harus menutup saluran IPAL industri di Kabupaten Purwakarta yang kedapatan membuang limbah cair ke aliran Sungai Cilamaya.
Namun baru-baru ini, pada 4 Oktober 20119 mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang kini terpilih menjadi Anggota DPR RI Fraksi Golkar, tiba-tiba mendatangi Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya bersama Bupati Karawang, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana.
Pasca meninjau langsung kondisi Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya, tiga hari kemudian Dedi Mulyadi mengumpulkan pejabat Dinas Lingkungan hidup di tiga kabupaten untuk mencari solusi persoalan pencemaran Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya.
Namun sayangnya, solusi yang disepakati dalam menyikapi persoalan pencemaran Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya ini tidak langsung kepada titik persoalannya. Yaitu ‘mempidanakan’ atau memberi peringatan keras kepada setiap industri yang kedapatan membuang limbah ke aliran Sungai Cilamaya.
Solusi yang diambil malah akan menggelar ‘Kegiatan Gebyar Pembersihan Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya’ dari sampah dengan cara melibatkan masyarakat sekitar. Kegiatan pembersihan sampah Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya ini sendiri akhirnya diintruksikan langsung oleh Pemkab Karawang melalui Surat Nomor : 005/6859/DLHK yang ditandatangani langsung Sekda Karawang, H. Acep Jamhuri.
Kegiatan pembersihan sampai Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya dengan melibatkan masyarakat sekitar ini akan digelar pada Senin (28/10/2019) besok, sekitar pukul 07.00 WIB sampai denga selesai.
Menyikapi isu teranyar pencematan Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya oleh limbah industri ini, tokoh masyarakat Cilamaya, Muslim Hafidz menegaskan, bahwa pihaknya bersama beberapa aktivis lingkungan akan tetap fokus pada persoalan pembuangan limbah cair industri, bukan limbah domestik cair/padat domestik.
“Limbah padat udah diangkat, tapi air masih hitam dan bau. Berarti bukan hanya itu cemarannya. Kemungkinan banyak kelemahan operasi pada aksi Program Kali Bersih (Prokasih), terkadang melahirkan masalah baru. Kita bisa isi yang bolong-bolongnya, sekalian sosialisasi mana itu limbah padat dan cair, limbah domestik dan industry,” tutur Muslim Hafidz, Minggu (27/10/2019).
Ketua Presedium Fordas Cilamaya Berbunga ini juga menjelaskan, objektif Prokasih kemungkinannya seperti sistem operasi, mobilisasi dan komunikasi personil, mekanisme transfer dan distribusi sampah dari badan sungai ke titik angkat dan angkut, penugasan alat angkut antar titik angkut ke pembuangan akhir, mitigasi keselamatan personil serta pengaturan lalu lintas jalan, distribusi logistik, peralatan dan konsumsi, serta blambir air bersih untuk bersih diri personil saat operasi selesai.
Disinggung apakah Fordas Cilamaya Berbunga akan ikut serta dalam kegiatan bersih-bersih sampah bersama pemkab senin besok, Muslim Hafidz kembali menegaskan, jika fokus Fordas Cilamaya Berbunga tetap pada persoalan limbah industri dengan menyuarakan aspirasi.
“Itu berbeda dengan metode temen-temen yang menyuarakan beberesih sampah. Air item Sungai Cilamaya itu bikin gatel. Tapi teman-teman Fordas Cilamaya yang berada di wilayah Bendungan Barugbug mungkin ada yang hadir dalam kegiatan bersih-bersih sampah besok,” kata Muslim Hafidz. (red)






