BaskomNews.com – Meskipun PKS dan Partai NasDem Karawang telah bersepakat mengusung H. Aep Syaepulloh sebagai Calon Bupati Karawang di Pilkada 2020, namun sepertiya peta politik Pilkada Karawang masih akan terus berubah sampai dengan pendaftaran Pasangan Calon di KPU Karawang pada Juni 2020 mendatang.
Sehingga ‘sangat mungkin’ pada akhirnya PKS dan Partai NasDem tetap akan mengusung H. Aep Syaepulloh sebagai Calon Wakil Bupati untuk berpasangan dengan Cellica Nurrachadiana. Terlebih, rencana koalisi PKS dan Partai NasDem Karawang belum memenuhi 10 kursi sebagai syarat mendaftarkan jagoan Pilkadanya ke KPU Karawang.
Terpantau awak media, dalam beberapa kesempatan Cellica Nurrachadiana dan H. Aep Syaepulloh masih terlihat mesra. Melalui insta story akun resmi instagram miliki pribadinya, Cellica kembali meng-upload kemesraannya dengan H. Aep Syaepulloh.
Melalui insta story berdurasi 15 detik tersebut, Cellica meng-upload kemesraanya dengan H. Aep Syaepulloh yang sedang ‘ngabaso’ atau jajan baso. H. Aep Syaepulloh yang ditemani kedua sahabatnya yaitu Asep Irawan Syafei (politisi PKS Karawang) dan Rafiudin Firdaus (Ketua HIPMI Karawang) teerlihat membalas ‘say hello’ Cellica Nurrachadiana dengan senyuman kecil yang sudah menjadi ciri khasnya.
“Pak haji makan yang banyak ya. Pak haji kita yang sangat baik hati. Ini A Ais… ini A Rafi…. ini aku,” kata Cellica Nurrachadiana, dalam insta story akun instagram @cellicanurrachadiana.
Sementara itu, saat disinggung perkembangan sikap PKS di Pilkada Karawang, Sekretaris DPW PKS Jawa Barat, Abdul Hadi Wijaya mengatakan, Pilkada Karawang 2020 merupakan fenomena sangat menarik dan terbuka. Sehingga Pilkada Karawang diprediksi akan menjadi ‘Pilkada Bintang’ di 8 kabupaten Jawa Barat yang menggelar Pilkada. Karena menurutnya, dinamika politik yang ada sangat menggambarkan bagaimana karakter orang Karawang yang dinamis, sudah tidak bisa dibatasi dengan pakem-pakem yang baku.
Sehingga hari ini, politisi yang kerap akrab disapa Gus Ahad ini menilai, jika seluruh partai berinovasi melakukan manuver-manuver politik yang sangat kere dan dinamis. Sehingga sampai hari ini 3 bulan sebelum penentuan pasangan, belum ada satupun pasangan yang definitif. Bahkan siapa yang ada di kubu petahana atau lawan petahana belum ada yang bisa membuat kesimpulan jelas.
“PKS satu sisi dengan tiga calon yang ada bisa melakukan manuver sebagaimana yang dilakukang Kang Aep yang awalnya semua pihak menduga Kang Aep dipatok sebagai waki Teh Celli. Tapi hari ini Kang Aep menyampaikan adalah sebagai bupati. Ini membuat semua kalkulasi harus direvisi,” tutur Gus Ahad, saat dikonfirmasi BaskomNews.com melalui voice note pesan Whatsapp.
Ke depan, sambung Gus Ahad, ia mengajak seluruh masyarakat untuk menunggu dinamika politik yang ada, dengan saling menjaga suportivitas Pilkada yang penuh warna tanpa harus ada black campaign. Setiap pihak diharapkan bisa menjaga harkat dan kualitas Pilkada. “Selamat bagi warga Karawang. Kita sedang menjelang proses Pilkada yang berkualitas. Ini akan menjadi catatan sejarah Karawang pada khususya dan Jabar pada umumnya,” timpal Gus Ahad.
Tentang PKS sendiri, sambung Gus Ahad, DPD PKS Karawang sudah mengajukan tiga calon, yaitu Abdul Hadi Wijaya, H. Aep Syaepulloh dan Budianto. “Kami semua sedang melakukan proses kampanye dengan gaya masing-masing. Saya mengadakan pertemuan komunitas, Budiwanto terus mengadakan pertemuan jaringan beliau, Pak Aep sudah terkenal sekali, baliho spanduknya ada di seluruh pelosok Karawang. Nanti DPP PKS-lah yang akan menentukan,” timpalnya.
Ditegaskan Gus Ahad, Pilkada manapun tidak bisa diputuskan oleh orang Karawang sendiri (para petinggi parpol Karawang). Karena semua parpol memiliki hirarki, dimana pengambil keputusan ada di DPP. “Kita lihat misalnya PDIP yang membuka penjaringan di setiap daerah, namun juga ada yang mengambil pencalonan langsung ke DPP. Kemudian, Partai Golkar juga seperti itu, dimana setiap daerah belum ‘mengkristalkan’. Yang baru jelas baru Partai Demokrat yang mencalonkan Ibu Cellica yang sudah mencapai sampai level ketua umumnya,” katanya.
Sehingga menurut Gus Ahad, dinamika Pilkada di Karawang harus memperhitungkan mengenai kesimpulan bahwa para pimpinan partai di daerah bukan pengambil keputusan. Mereka adalah pelaksana keputusan yang diambil pimpian tingkat pusat. “Para ketua parpol tidak akan ada yang berani bergerak tanpa intruksi para pimpinannya. Jadi faktor ini yang harus kita lihat bahwa manuver-manuver selama ini hanya manuver di tingkat Kabupaten Karawang,” tuturnya.
Khusus untuk Pilkada Karawang 2020, Gus Ahad berharap agar PKS Karawang tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti Pilkada Karawang 2015 lalu. Yaitu dimana PKS Karawang hanya menjadi ‘partai pendukung’ pasangan Cellica-Jimmy saat itu. Karena PKS Karawang terlambat memberikan rekomendasi partai ke KPU Karawang.
“Jadi sekali lagi PKS sebagai spesialis partai yang memenangkan pasti akan punya kiprah yang tidak bisa diabaikan. Dan pasti PKS tidak akan mengulang posisi tidak nyaman sebagaimana Pemilu 2015 lalu,” harap Gus Ahad.
Disinggung mengenai kemungkinan atau peluang koalisi Demokrat-PKS (Cellica-H. Aep) di Pilkada Karawang 2020, Gus Ahad menyebut kemungkinannya masih ada. Karena penentukan kebijakan akhir rekomendasi partai tetap ada di DPP masing-masing parpol. Terlebih sampai hari ini, dinamika politik Pilkada Karawang di masing-masing DPP partai belum bisa dibaca.
“Jelas masih ada, karena penentu akhir Paslon adalah DPP masing-masing partai. Dinamika di DPP masing-masing partai ini yang belum bisa kita baca. Kita nikmati saja ketidaktahuan ini, agar nanti semuanya penuh kejutan dan menghasilkan Paslon dan pemenang terbaik,” pungkas Gus Ahad. (red)












