BaskomNews.com – Komunitas Skateboard dan BMX Karawang merasa ‘dianaktirikan’. Pasalnya, Karawang belum memiliki arena latihan skateboard. Para skateboard kerap kali diusir oleh warga bahkan oleh Satpol PP saat melakukan latihan di tempat-tempat publik yang disediakan oleh pemerintah.
Padahal Skateboard merupakan cabang olahraga yang pada tahun 2018 lalu yang dipertandingkan pertama kalinya di Asian Games yang dihelat di Indonesia. Terlebih, komunitas skateboard dan BMX Karawang kerap mengikuti berbagai kejuaraan di berbagai daerah.
Muhamad Ali Akbar, Ketua Komunitas Skateboard Karawang menuturkan, dirinya merasa prihatin karena Kabupaten Karawang tidak memiliki arena latihan khusus untuk Skateboard dan BMX, padahal komunitasnya sering mengikuti kompetisi-kompetisi antar daerah.
“Saya merasa prihatin, kalau latihan seingkali diusir oleh warga bahkan tak jarang oleh Satpol PP. Padahal kami ini tidak melakukan tindakan kriminal dan aneh-aneh,” tutur Muhamad Ali Akbar yang akrab disapa Aby tersebut.
“Kami hanya latihan, untuk mematangkan skill kami di cabang olahraga ini. Kalau di sana sini diusir, dimana lagi kami harus latihan,” timpal Aby.
Bahkan kata Aby, tak jarang para skateboard Karawang harus numpang latihan di kota lain yang memiliki arena latihan khusus. Kemudian, beberapa kali diusir warga dengan alasan merusak fasilitas publik.
“Memang kalau diusir alasannya karena merusak keramik atau lantai. Tapi kami pastikan, setiap kerusakan yang ditimbulkan selalu kami ganti seperti kondisi sediakala dari patungan teman-teman,” katanya.
Ditambahkan Aby, pihaknya tak muluk-muluk ingin disediakan fasilitas latihan khusus. “Adanya izin dan jaminan bagi kami dapat melakukan latihan di tempat yang semestinya, itu sudah lebih dari cukup bagi kami, karena kami juga ingin berprestasi seperti komunitas-komunitas skateboard di kota-kota lain,” timpal Aby.
Yogi Dwi Utama yang merupakan Ketua Komunitas BMX Karawang menuturkan hal serupa, bahwa dirinya merasa kecewa kepada segelintir orang yang mengusirnya saat melakukan latihan dengan mengatasnamakan masyarakat.
“Sekali lagi kami tegaskan bahwa kami melakukan latihan untuk melatih skill kami. Kami bukan kumpulan anak-anak muda berandalan yang melakukan tindakan criminal. Kalau di kota kelahiran kami sendiri tidak mendapatkan tempat, dimana lagi kami harus melakukan latihan dan untuk siapa kami dedikasikan saat kami meraih prestasi dalam kompetisi-kompetisi yang kami ikuti,” tuturnya.
“Kalau minta diperlakukan layaknya sebagai atlet mah jauhlah. Sederhana aja kita mah, ingin latihan tidak terganggu dengan tuduhan miring dan diusir orang, itu aja,” tegasnya.
Menurut Yogi, untuk menguasai satu trik skateboard saja butuh latihan berminggu-minggu dan ratusan bahkan ribuan kali percobaan. Oleh karenanya, Yogi berharap agar pemerintah daerah melalui instansi yang berwenang dapat memberikan izin dan memberikan jaminan keamanan pada saat mereka melakukan latihan, sehingga tidak terjadi lagi pengusiran terhadap dirinya dan teman-teman komunitasnya.
“Mudah-mudahan pihak berwenang ataupun pemerintah daerah bisa menampung aspirasi kami dan kami tidak lagi merasa khawatir akan diusir orang pada saat kami melakukan latihan,” pungkasnya.(rls)






