“Siswa bayar Rp 11.650.000, sekitar 6 orangtua siswa bayar Rp 16.500.000. Awalnya sih dijanjiian ada fasilitas hotel dan konsumsi. Tapi pas di Bandara Shanghai malah tidur di emeperan”
BaskomNews.com – Kendati harus membayar sampai Rp 28 juta, ternyata siswa dan orangtua yang berangkat ke Jepang bersama Bupati Karawang, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana malah terlantar saat pemberangkatan dan pemulangan dalam agenda memenuhi undangan Gubernur Osaka Jepang ini.
Padahal agenda kunjungan ke Jepang dalam rangka pertukaran budaya bersama Disbudpar dan Disdikpora Karawang sudah dianggarkan oleh APBD Karawang senilai Rp 1 miliar.
Berdasarkan pengakuan orangtua siswa SMPN 1 Karawang yang enggan disebutkan namanya ini, mereka berangkat pada Sabtu (18/11) sekitar pukul 07.00 WIB dari Bandara Soekarno Hatta. Rombongan siswa, orangtua dan pihak sekolah ini tergabung bersama rombongan para pejabat Disbudpar dan Disdikpora Karawang.
Sementara rombongan bupati dan bersama pejabat lainnya terpisah dari rombongan siswa dan orangtua. Rombongan siswa dan orangtua sampai di Bandara Shanghai sekitar pukul 23.00 WIB.
Dan di bandara saat transit inilah para siswa dan orangtua mengaku mulai terlantar. Karena dari pukul 23.00 WIB sampai dengan pukul 09.00 WIB, mereka harus tidur di emperan Bandara shanghai tanpa diberikan konsumsi apapun.

“Siswa bayar Rp 11.650.000, sekitar 6 orangtua siswa bayar Rp 16.500.000. Awalnya sih dijanjiian ada fasilitas hotel dan konsumsi. Tapi pas di Bandara Shanghai malah tidur di emeperan. Kita kasian siswanya, karena cuaca di sana kan dingin banget,” tutur orangtua siswa yang mengaku kecewa ini, Jumat (24/11).
Ironisnya, kesengsaraan siswa dan para orangtua kembali mereka rasakan saat pemberangkatan pulang menuju Bandara Malaysia untuk transit. Para siswa dan orangtua harus menunggu di emperan jalan sekitaran Bandara Jepang, tanpa dikasih makan atau konsumsi apapun.
Para siswa dan orangtua harus menunggu di emperan jalan sampai 4 jam lebih lamanya. Mereka baru mendapatkan konsumsi saat berada di pesawat menuju Bandara Malaysia. Itu pun hanya diberikan sarapan sepotong roti dari pihak Bandara (bukan panitia).
“Kita sih gak apa-apa kalau orangtua bisa nahan lapar sampai 9 jam. Ini kan kalau anak-anak kasian. Gimana kalau mereka sakit. Saya nanya ke kepsek juga ngakunya gak tahu apa-apa. Karena yang ngurusin semuanya Disbudpar,” katanya.
Hal senda disampaikan orangtua siswa lainnya. Kepada BaskomNews.com, orangtua siswa ini mengaku tidak bisa bercerita apa-apa selain rasa sedih karena merasa terlantar dalam agenda pertukaran budaya ke Jepang ini. “Sedihlah pokoknya mah,” singkatnya.
Sementara itu, upaya konfirmasi BaskomNews.com untuk meminta keterangan dari Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam agenda ke Jepang ini belum ada konfirmasi resmi. Pasalnya, KPA dari pejabat Disbudapar bernama Firman ini belum menjawab konfirmasi dari BaskomNews.com.(king)






