BaskomNews.com – Indonesia saat revolusi agustus 1945 telah mencanangkan kedaulatan dengan trisaktinya, yakni berdaulat dalam bidang politik, mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam bidang budaya.
Namun semboyan tersebut telah dicampakkan dengan hadirnya rezim komprador yang berkuasa dengan sokongan imperialisme. Rezim komprador lebih senang dengan meliberalisasi (menjual) kekayaan alam kita ke pihak asing, membuat peraturan-peraturan yang menguntungkan bagi pihak asing, dan juga menjual aset-aset BUMN kita kepada asing.
Tak lupa turut sertanya Indonesia dalam pasar bebas yang intinya adalah bagaimana kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dan termasuk sumber daya manusianya dipergunakan untuk kemakmuran pihak imperialisme yang bercokol di bumi Indonesia.
Di tengah-tengah kekayaan yang melimpah, rakyat tetap berada dalam garis kemiskinan, belum lagi penindasan yang dilakukan imperialisme dengan restu rezim komprador di segala lini lewat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan seperti perampasan tanah di daerah-daerah, monopoli pupuk, hadirnya tanaman transgenic, liberalisasi kesehatan dan pendidikan, mahalnya harga kebutuhan pokok, upah murah, kerja kontrak dan kerja magang, rendahnya perlindungan terhadap TKI di luar negeri.
Kondisi tersebut telah membuat rakyat Indonesia menjadi kuli di negeri sendiri, yang membuat petani menjadi buruh tani sepanjang hidupnya. Perjuangan pemuda sejatinya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan rakyat Indonesia dalam mengakhiri penindasan oleh rezim komprador, mayoritas rakyat Indonesia yakni buruh, tani, nelayan, pemuda, pekerja seni budaya, mahasiswa dan pelajar, yang dalam kenyataannya merupakan kekuatan pokok pembangunan ekonomi Indonesia.
Kaum pekerja inilah yang seharusnya menjadi sandaran bagi Negara untuk mewujudkan kesejahteraan yang sejati, karena keringat dan tenaga merekalah yang sebenarnya yang memberikan kemajuan bagi Negara. Semangat perlawanan pemuda, buruh, dan rakyat Indonesia pada umumnya yang merupakan landasan bagi perjuangan untuk melawan rezim komperador antek asing.
Dengan melakukan pembangunan gerakan di perkotaan, pembangunan gerakan di pedesaan, dan pembangunan gerakan maritim inilah yang merupakan semangat gotong-royong rakyat indonesia dalam melawan penjajahan dan penindasan yang menjadi dasar dari seluruh sila-sila dalam Pancasila dan merupakan modal pokok pembangunan negara Indonesia, dalam mewujudkan cita-cita atau tujuan nasional Indonesia yang telah dirumuskan oleh para founding father atau para pendiri negara Indonesia yakni untuk melindungi bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Dan atas dasar tersebut rakyat harus mengambil peran aktif untuk mewujudkan cita-cita luhur Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam menjadikan negara yang berdasarkan kedaulatan rakyat, berdikari dan berkepribadian berdasarkan Pancasila.
Dan kami dari Gerakan Pemuda Patriotik Indonesia menyatakan sikap:
- Kobarkan semangat patriotisme rakyat untuk melawan rezim komprador
- Wujudkan lapangan kerja yang layak
- Hapuskan sistem kerja kontrak dan outsourcing dan Tolak PHK
- Wujudkan jaminan kesehatan gratis tanpa syarat
- Lawan imperialisme, sisa feudal dan kapitalisme birokrat
PC GPPI Karawang, Panji Rachmat Purwanto, Attachments Area.
(rls/red)






