“Kita akan bayar secara bertahap, yang penting tidak sampai mengganggu pelayanan,”
BaskomNews.com – Meskipun masih memiliki hutang hingga Rp 20 miliar lebih ke sejumlah rumah sakit, namun Pemkab Purwakarta masih menggulirkan program Jaminan Kesehatan Masyarakat Purwakarta Istimewa (Jampis) pada 2019.
Pemerintah daerah setempat baru menganggarkan lima miliar rupiah pada 2019 untuk membayar cicilan hutang tersebut. “Kita akan bayar secara bertahap, yang penting tidak sampai mengganggu pelayanan,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Purwakarta Tri Hartono, Kamis (3/1/2019).
Sebagian besar hutang tersebut diakui kepada Rumah Sakit Bayu Asih hingga sekitar Rp16 miliar. Pemerintah daerahnya mengalokasikan anggaran sekitar Rp 10 miliar untuk Jampis dari keseluruhan Rp 20 miliar alokasi untuk program kesehatan tahun ini.
Sebagian anggaran program kesehatan itu menurutnya akan digunakan untuk membayar iuran Badan Penyedia Jaminan Sosial Kesehatan bagi masyarakat tak mampu. Tri mengatakan, pemerintah pusat sebenarnya mewajibkan seluruh masyarakat mengikuti BPJS Kesehatan paling lambat 2019 ini.
Pemerintah Kabupaten Purwakarta masih mempertahankan Jampis karena pembayaran BPJS Kesehatan tak hanya ditanggung daerah tapi juga Pemerintah Provinsi Jawa Barat. “Ada sharing 40 persen ditanggung provinsi, 60 persen oleh kabupaten,” kata Tri menjelaskan.
Dengan kebijakan itu, Tri berharap keikutsertaan masyarakat pada program BPJS Kesehatan bertambah hingga 83 persen penduduk pada 2019.
Namun, sejumlah keluhan masih dirasakan para pengguna jasa tersebut, seperti dialami seorang warga lanjut usia bernama Edi Sulaiman (76) asal Kelurahan Cipaisan Kecamatan Purwakarta.
Keluhan yang beredar di media sosial itu menyebutkan warga tersebut ditolak sejumlah rumah sakit dengan alasan tak ada ruangan kosong. Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta pun segera merespon dengan mendatangi warga tersebut dan mengarahkannya ke Instalasi Gawat Darurat RS Bayu Asih.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit di Dinas terkait Bedi menyebutkan penyakit yang diderita warga tersebut ialah infeksi pada bagian kaki akibat kecelakaan lalu lintas. “Setahu saya (Rumah Sakit) bukan menolak tapi ruangan yang sesuai kelasnya penuh. Jadi sementara sambil menunggu ruangan kosong di observasi dulu di IGD,” katanya.(PR/red)






