“Semua biaya tim rombongan vokasi dibiayai oleh IHK Thier,” tutur Fadludin Damanhuri,
BaskomNews.com – Sempat diprotes Wakil Bupati Karawang, H. Ahmad Zamakhsyari (Jimmy), keberangkatan Kepala Disnaker Karawang, H. Ahmad Suroto disebut tidak menggunakan biaya APBD. Melainkan dibiayai oleh IHK Thier.
Untuk diketahui, IHK Thier sendiri merupakan Kamad Dagang dan Industri (Kadin) di Jerman. Sehingga kegiatan studi banding dalam rangka vokasi (pendidikan kejuruan) sistem ganda Kadisnaker ini juga ditemani oleh Ketua Kadin Karawang, Fadludin Damanhuri.
Menurut Fadludin, Kadin Disnaker Karawang mendapat undangan dari Kadin (IHK) Thier negara bagian Jerman. Undangan ini adalah untuk menindaklanjuti kerja sama antara Jerman dan Indonesia dalam rangka pengembangan pendidikan dan pelatihan vokasi.
Karena tahun 2019-2021, Karawang sendiri ditargetkan menjadu rule model vokasi nasional. “Semua biaya tim rombongan vokasi dibiayai oleh IHK Thier,” tutur Fadludin Damanhuri, melalui ponsel selulernya, Kamis (21/2/2019).
Dijelasan Fadludin, Thier sendiri merupakan tempat vokasi termaju di dunia. Vokasi di Jerman sudah berjalan hampir 100 tahun lamanya. Termasuk Malaysia juga belajar vokasi ke Thier sejak tahun 1991.
“Sekarang vokasi negeri tetangga SDM-nya sudah bagus dan Indonesia tertinggi sama Malaysia. Jokowi menargetkan 2019 ini adalah awal pembangunan SDM masyarakat Indonesia dengan melalui program vokasi,” kata Fadludin.
Sebelumnya, Wakil Bupati Kang Jimmy merasa kecewa dengan keberangkatan Kadisnaker ke Jerman karena tanpa sepengetahuannya. Karena seperti yang diketahui, Kang Jimmy sendiri merupakan Ketua Vokasi Karawang yang seharusnya tahu agenda Kadisnaker tersebut.
Terlebih menurut Kang Jimmy, mengenai vokasi ini sebenarnya Kadisnaker tidak perlu jauh-jauh berangkat ke Jerman. Sebab persoalan vokasi di Karawang sebenarnya sederhana, yaitu bisa dilaksanakan dengan cara mewajibkan setiap perusahaan yang ada di Karawang agar mendidik pelajar SMA/SMK di Karawang.
“Itu persoalan gampang kok vokasi. Tinggal diwajibkan setiap perusahaan atau mewajibkan 10-20 orang setiap perusahaan agar mendidik pelajar SMA/SMK. Kemudian setelah itu disekolahkan sama perusahaan, dan anak-anak kita keluar sekolah jadi tenaga kerja yang andal dan siap pakai. Jadi mau ngapain Suroto ke Jerman?,” tanya Kang Jimmy. (red)






