BaskomNews.com – Dianggap impoten atau lemah dalam mengeluarkan kebijakan, 3 bupati yaitu Bupati Karawang, Purwakarta dan Subang ditantang aktivis lingkungan untuk ‘mandi’ di hitam pekatnya Sungai Situdam yang tercemar limbah industri.
Pernyataan ini disampaikan aktivis lingkungan yang merasa sudah bosan atas lemahnya sikap ketiga bupati yang dinilai sudah lebih dari 14 tahun tidak mampu menyelesaikan persoalan pencemaran Sungai Situdam dan Bendungan Barugbug.
Selain itu, aktivis lingkungan juga menyesalkan atas pernyataan Bupati Purwakarta dan Ketua DPRD Purwakarta yang dinilai tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Karena sebelumnya, Ketua DPRD Purwakarta, Syarip Hidayat sempat mengeluarkan pernyataan, bahwa persoalan pencemaran sungai bisa diselesaikan lewat program Citarum Harum.
Padahal pada kenyataannya, persoalan pencemaran Sungai Situdam tidak ada kaitannya dengan aliran Sungai Citarum. Melainkan murni karena persoalan limbah industri di Kabupaten Subang dan Purwakarta yang dibuang ke Sungai Ciherang.
“Membaca pernyataan Bupati dan Ketua DPRD Purwakarta sebelumnya, saya menyimpulkan kalau mereka berarti tidak tahu duduk persoalan. Jangan berkilah mereka baru menjabat, apalagi Bupati Purwakarta Ambu Anne yang sebelumnya Kang Dedi Mulyadi (suaminya Ambu Anne) juga menjabat sebagai Bupati Purwakarta,” sindir Aktivis Lingkungan Forum Situdam-Barugbug, Iwan Soemantri Amintapraja, Minggu (28/7/2019).
BACA SEBELUMNYA : Viral Pencemaran Situdam hingga Perseteruan Wabup Jimmy dan Bupati Purwakarta
Ditambahkan Iwan, sudah 14 tahun persoalan pencemaran Sungai Situdam tidak pernah ada solusi. Pdahal ditegaskannya, masing-masing daerah sudah mengetahui ada 4 perusahaan yang membuang limbahnya ke Sungai Ciherang, sehingga berdampak kepada aliran Sungai Situdam dan Bendungan Barugbug yang merugikan masyarakat dan Petani Jatisari Karawang.
“Kalau mereka gak sanggup untuk menyelesaikan persoalan bilang saja, kita sanggup kok. Ini kewenangannya ada di Kemen LH. Tapi ketika pusat turun ke lapangan, ya berarti pemerintah daerah dianggap impoten, karena tidak bisa menyelsaikan persoalan. Ini sudah kita laporkan ke Gakum Kemen LH, tinggal tunggu tanggal mainnya saja, kita gak diem kok. Kita juga sudah request sampaikan ke Gubernur Jawa Barat Kang Emil,” timpal Iwan.
Masih dijelaskan Iwan, persoalan pencemaran Singai Situdam yang tak kunjung selesai ini juga kontra produktif dengan Program Presiden Jokowi mengenai ketahanan pangan. Karena faktanya, ada 2.926 hektar sawah yang dialiri oleh air Bendungan Barugbug yang sudah tercemar limbah industri.
“Kemarin temen-temen ITB juga turun ke sana, katanya ada penurunan produksi padi. Kondisi ini sangat merugikan petani di sana kok. Dan setiap harinya masyarakat disuguhksn dengan bau busuk air sungai. Kita tidak menuntut pabrik yang buang limbah ke sana ditutup. Kita cuma tuntut jangan buang limbah ke sana,” tegas Iwan.

Ditegaskan Iwan, Forum Situdam-Barugbug juga sangat menyayangkan sikap Bupati Karawang, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana dan DPRD Karawang yang terkesan hanya bisa berdiam diri, tanpa mencari solusi atas persoalan yang terjadi.
“Dimana sih otaknya mereka. Bupati juga hanya bilang oh iya bau airnya, tanpa adanya solusi, itu kan lucu. Harusnya kan ada tindakan kongkrit dari bupati. Kemudian anggota Dewan Karawang juga pada kemana, jangan makan gajib buta dong. Kita juga sudah lapor Bupati Subang, dia minta tunjukan pabrik mana saja yang buang limbah ke Ciherang. Itu responsif Bupati Subang, Bupati Karawang sama Bupati Purwakarta gimana, ini bener-bener lucu,” sindir Iwan.
Atas persoalan ini, Forum Situdam-Barugbug juga menantang 3 bupati (Karawang, Purwakarta dan Subang) untuk ‘mandi’ atau berdiam diri di pinggiran Sungai Situdam dalam jangka sehari saja. “Coba mereka diam di sana sehari saja, atau mandi deh sekalian di sana. Moal teu utah (pasti muntah-muntah),” sindir Iwan lagi.
Ditegaskan Iwan, Forum Situdam-Barugbug juga sudah mengantongi 4 nama perusahaan yang membuang limbah ke Sungai Ciherang. Terlebih, 4 perusahaan tersebut mengambil air Sungai Ciherang tanpa ada kejelasan retribusi yang jelas.
“Oh iya satu lagi, mereka (perusahaan, red) bikin sodetan untuk menampung air Ciherang, itu kena rertibusi gak kira-kira?. Sebenarnya Dinas Lingkungan Hidup Purwakarta juga sudah turun langsung ke lapangan kok. Jadi Bupati dan Ketua DPRD Purwakarta jangan sembarangan kalau ngomong. Masa mereka gak tahu duduk persoalan sampai dikaitan dengan program Citarum Harum sih. Ini kan lucu lagi,” timpal Iwan.
Terakhir, Iwan juga mengaku tidak pernah mempersoalkan pernyataan Wakil Bupati Karawang, H. Ahmad Zamakhsyari yang diduga membuat ketersinggungan Bupati Purwakarta dan Ketua DPRD Purwakarta. Malah justru Iwan mengaku sangat mendukung pernyataan Wakil Bupati Karawang.
“14 tahun lebih loh persoalan ini dibiarkan berlarut-larut. Wajar saja kok Jimmy (Wabup Karawang) nganggep gitu. Saya wajarkan seperti itu. Karena karakter kepemimpinan Karawang memang harus keras sepertri itu. Pokoknya yang bela-bela masyarakat pasti saya dukung,” pungkas Iwan.
Sementara itu diketahui, semenjak viralnya persoalan pencemaran Sungai Situdam yang mempertentangkan sikap Wabup Karawang dengan Bupati dan Ketua DPRD Purwakarta ini, kini muncul sebuah gambar sindiran di media sosial yang menjelaskan, ‘Jika dulu Subang dan Purwakarta merupakan bagian wilayah dari Karawang, maka kenapa saat ini tidak bisa menyelesaikan persoalan pencemaran Sungai Situdam secara bersama’.(red)
BACA JUGA : Tanggapi Cuitan Wabup Jimmy, Bupati dan Ketua DPRD Purwakarta Dinilai Salah Kaprah








